Tidak terasa kita kini sudah berada di penghujung tahun. Sebelum tahun berganti, yuk, periksa keuangan kita di Tahun 2020 ini! Jika masih ada kesalahan dalam mengelola keuangan kita selama 9 bulan kebelakang, mari segera perbaiki!

5 Kesalahan Mengelola Keuangan

Saya merangkum beberapa kesalahan yang umumnya terjadi dalam mengelola keuangan keluarga. Apa sajakah kesalahan itu?

  1. Mengabaikan perencanaan keuangan

Sebagian orang beranggapan jika membuat perencanaan keuangan itu tidaklah penting. Mereka berdalih jika tidak perlu membuat perencanaan karena pendapatan yang kecil.

“Belum selesai membuat perencanaan keuangan, pendapatan saya yang kecil keburu habis!”
“Penghasilan pas-pasan aja, kok, enggak usah repot-repot buat perencanaan.”

Pernah melihat orang yang terkena jebakan gali lubang tutup lubang? Sebagian orang mengalami hal tersebut karena lemahnya perencanaan keuangan baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Sebenarnya tidak sulit untuk membuat perencanaan keuangan. Langkah pertama yang mesti dilakukan yaitu membuat anggaran dengan memeriksa pendapatan dan pengeluaran. Tentukan dengan tepat berapa banyak penghasilan yang masuk dan berapa banyak uang yang dikeluarkan.

Kemudian evaluasi setiap pengeluaran, apakah dana yang dikeluarkan sesuai dengan kebutuhan atau hanya keinginan saja? Setelah itu, lacak, potong dan sasar jika ada biaya pengeluaran yang tidak begitu penting.

  1. Memakai paham kira-kira alias kiralogi

Mencatat pemasukan dan pengeluaran yang tidak pasti dan serba dikira-kira merupakan kesalahan dalam mengelola keuangan. Pencatatan aset dan utang pun harus dengan dilakukan secara detil, jangan hanya dikira-kira.

Semua pencatatan keuangan dibuat serba “kira-kira” dan “kayaknya”, tidak menyebutkan nilai yang pasti. Padahal angka tidak akan berbohong. Selama memiliki angka yang tepat mengenai kondisi keuangan, kita akan bisa menyelesaikan masalah keuangan.

Mulailah mencatat berapa pemasukan yang didapat dan pengeluaran rutin setiap bulan dengan terperinci. Kita perlu mengetahui berapa pengeluaran setiap bulan agar tahu di mana letak “bocor halus” dalam keuangan.

Sebagian besar orang tidak menyadari jika pengeluaran kecil yang dilakukan setiap hari akan menjadi besar saat dijumlahkan dalam sebulan. Beberapa pengeluaran kecil yang bisa jadi “bocor halus” dan tidak disadari seperti biaya parkir, jajan minuman kekinian atau uang jajan anak, bisa jadi pengeluaran yang besar jika dijumlahkan dalam sebulan.

Kegiatan mencatat keuangan ini memang tidak menyenangkan bagi sebagian orang. Namun tidak mungkin kita bisa memecahkan masalah keuangan sendiri jika tidak mengetahui dengan pasti permasalahan yang dihadapi, bukan?

  1. Menabung, tetapi diambil lagi di akhir bulan

“Saya sudah menabung, loh! Tapi kenapa tabungannya selalu habis, ya?”
Pernah memiliki pertanyaan seperti itu?

Mari tanyakan juga pada diri sendiri, apakah kita termasuk orang yang pintar menabung tetapi sulit mengendalikan keinginan berbelanja dan tidak tahu cara menghabiskan uang dengan benar? Selalu beranggapan, yang penting sudah menabung dan seolah-olah kewajiban sudah selesai?

Misalnya saat awal bulan menabung atau investasi 1 juta rupiah. Namun di pertengahan bulan tergiur ingin membeli tas baru, padahal anggaran belanja sudah habis dan tas yang adapun masih bagus. Ditariklah dana sebesar 500 ribu rupiah dari tabungan.

Bayangkan, apa jadinya jika tidak hanya tergiur dengan tas saja? Inilah yang sering tidak disadari. Oleh karena itu sebaiknya menabung meski sedikit demi sedikit, tetapi tidak diambil lagi di hari-hari berikutnya.

  1. Tidak memisahkan keuangan bulanan dan tahunan

Kesalahan lainnya dalam mengatur keuangan yaitu mencampur keuangan bulanan dan tahunan. Semestinya perlakuan terhadap uang bulanan dengan uang THR atau bonus yang kita dapatkan, harus berbeda. Sebab ada pemasukan dan pengeluaran yang sifatnya sebulan sekali dan setahun sekali.

Contohnya, kita harus membayar uang kegiatan atau uang pangkal sekolah anak hanya setahun sekali. Sedangkan membayar SPP sekolah anak adalah kewajiban setiap bulan.

Jangan gunakan uang bonus untuk membayar SPP sekolah yang disebabkan uang bulanan sudah habis untuk keperluan lain seperti membeli gadget baru yang tidak dibutuhkan. Itu berbahaya sekali. Sebaiknya alokasikan uang bonus atau THR untuk kebutuhan-kebutuhan yang memang hanya muncul satu tahun sekali.

  1. Mencampur keuangan pribadi dan bisnis

Kebiasaan mencampur keuangan pribadi dan bisnis merupakan kesalahan mengelola keuangan yang fatal bagi mereka yang memiliki bisnis. Apalagi ditambah jika tidak adanya pencatatan arus kas.

Keuangan yang tidak dipisahkan memicu sebuah bisnis akan sulit berkembang, bahkan dapat membuat bisnis terancam bangkrut. Hal tersebut bisa saja terjadi karena uang bisnis yang sedikit-sedikit diambil untuk kebutuhan pribadi dapat menghambat perputaran modal.

Sedangkan keuangan pribadi yang terpakai untuk bisnis, akan mengganggu stabilitas keuangan keluarga. Dan akan ada kewajiban-kewajiban dari keuangan pribadi yang terabaikan. Ujung-ujungnya, bisnis tidak berkembang dan keuangan pribadi mengalami kemunduran.

Nah, dengan mengetahui kesalahan-kesalahan mengatur keuangan, diharapkan kita semua bisa mengelola keuangan dengan baik dan tidak terulang lagi kesalahan yang sama di tahun-tahun berikutnya.