“Ruangan yang barangnya selalu tertata rapi adalah ruang pamer, bukan ruang keluarga
“Ruangan yang lantainya selalu kinclong adalah mall besar bukan ruang bermain dan beraktivitas anggota keluarga”
“Ruangan yang senantiasa sepi dan hening adalah museum, bukan ruang bermain anak”
Jangan sampai terbalik ya!

Begitulah kira-kira kutipan yang beredar di media sosial beberapa minggu terakhir. Sebuah untaian kalimat yang langsung disambut dengan riang gembira oleh emak-emak netizen di penjuru Indonesia. Sangat menghibur ditengah kepenatan akan rempongnya mengurus rumah yang seolah tiada akhir plus ditimpali dengan tingkah anak-anak yang rasanya susah diatur, berisik dan bikin emosi.

Di masa pandemi seperti ini, semua kegiatan berpusat di rumah. Orang tua yang WFH, anak-anak yang PJJ menambah kerumitan di rumah. Maka, kutipan di atas seolah menjadi “sebuah pembenaran” untuk rumah yang berantakan, kerjaan yang terbengkalai dan sejenisnya.

Tips Rumah Rapi dan Bersih Meski Ada Anak Kecil

Sesungguhnya punya rumah yang rapi dan bersih juga teratur pastinya menjadi impian semua orang. Yakin deh, tak ada orang yang nyaman dengan kondisi berantakan. Meskipun akhirnya berusaha memaklumi dengan segala keterbatasan. Apakah ada cara untuk menjaga kerapihan rumah tanpa menjadi beban untuk ibu seorang? Ada dong. Berikut beberapa tipsnya

1. Libatkan Seluruh Anggota Keluarga

Rumah adalah milik bersama. Ada Ayah, Ibu dan anak. Urusan kebersihan, kerapihan dan pekerjaan rumah tangga bukanlah tanggung jawab ibu seorang. Menanamkan kesadaran akan hal in, ini sangatlah penting. Semua anggota keluarga bisa berbagi tugas. Sekedar menyapu, mencuci piring, menjemur pakaian dan pekerjaan sederhana lainnya bisa dilakukan oleh siapa saja.

Anak saya, sejak umur 5 tahun biasa saya libatkan saat mengepel. Bukan dia yang ngepel, bahaya ini. Dia suka sekali dengan tugas menginjak pedal alat pel. Serasa bermain untuknya. Atau saat menjemur pakaian, anak bisa membantu mengambil baju dari ember, untuk kemudian dijemur oleh ibu/ayah. Sederhana sekali. Namun, dengan begini anak merasa berjasa dan dihargai. Anak bahagia, orang tua juga senang.

2. Aturan Demi Cinta

Rasanya tak ada rumah ideal yang bisa kinclong sepanjang waktu. Selama masih ada aktivitas anggota keluarga, pastinya kondisi berantakan, remah-remah makanan, mainan yang tersebar di berbagai penjuru, kabel-kabel yang malang melintang untuk aliran listrik bagi laptop, ponsel dan gadget lainnya.

Mari buat aturan yang berlaku untuk semua. Usai bermain wajib membereskan sendiri. Usai bekerja, gulung kabel dan rapikan. Apabila ada tumpahan makanan, wajib membersihkan sendiri. Intinya, semua yang terpakai, bila sudah selesai, kembalikan ke tempat/kondisi semula. Mungkin awalnya akan sulit. Bisa dipancing dengan memberikan apresiasi bagi yang disiplin dan sanksi bagi yang melanggar. Lama-lama semua akan terbiasa. Bukan galak kok. Tapi justru ini karena cinta. Berlatih melakukan hal-hal baik sejak kecil akan menjadi bekal di masa depan.

Bagaimana kalau anak masih kecil? Tak apa. Justru disiplin ini bisa dilatih sejak kecil. Merapikan mainan misalnya, bisa dilakukan bersama-sama sambil bernyanyi gembira. Anak-anak akan melakukannya dengan bahagia dan tak merasa terpaksa. Sebagai orang tua, harus memberi contoh dan konsisten. Kelak, anak akan jadi peniru. Bila terbiasa melihat orang tuanya merapikan barang maka dia akan melakukan hal yang sama.

3. Menggilir Mainan, Buku dan Barang lainnya

Anak-anak itu memang jiwanya bermain. Tapi bukan berarti lantas bebas mainan apa saja sesuka dia lantas berhenti kala bosan, meninggalkannya dan mengambil mainan baru. Saya menerapkan aturan sebelum mengambil yang baru, yang lama bereskan dahulu. Selain itu bisa dilakukan pergiliran pada mainan, buku atau smartphone. Jadi yang bisa diakses anak hanya sedikit saja, yg lainnya disimpan. Nanti tiap beberapa minggu, ditukar deh. Anak gak akan kehabisan mainan “baru”, beresinnya juga gampang.

4. Tumbuhkan rasa kepemilikan

Untuk anak, kenalkan dia pada kepemilikan pribadi dan tanggung jawabnya. Paling sederhana adalah kamar. Anak wajib bertanggung jawab atas kerapian dan kebersihan kamarnya. Misalnya merapikan tempat tidur dan melipat selimut saat bangun pagi, merapikan buku-buku dan alat tulis di meja belajar, termasuk merapikan mainan dan pernak pernik lainnya. Contoh lainnya sepeda. Rasanya anak-anak sekarang hampir semua punya sepeda. Sejak kecil, biarkan dia membersihkan sendiri sepedanya. Bisa dilakukan bersama kok. Ayah mencuci mobil/motor, anak mencuci sepeda. Senang pastinya, sambil main air khan.

Untuk awal, kegiatan ini memang harus dicontohkan dan didampingi. Makin besar anak, dia harus bertanggung jawab sendiri. Jangan biasakan mengambil alih bagian itu. Alih-alih kita senang karena kamar rapi, di sisi lain kita membuatnya jadi manja dan merasa, “ah, nanti juga ada yang rapihin,”

Beberapa bulan terakhir, anak saya memiliki hewan peliharaan. Seekor kucing mungil yang awalnya terjebak di ruang mesin mobil. Lalu diasopsi olehnya. Setelah diskusi panjang, akhirnya saya menyetujui adopsi ini dengan syarat dia harus bertanggung jawab merawatnya. Mulai dari memberi makan sampai membersihkan kotorannya. Sejauh ini sih, dia cukup bertanggung jawab ya. Termasuk dalam hal membersihkan ruang garasi yang sesekali berantakan kena tumpahan pasir kucing.

5. Maaf, Tolong dan Terimakasih

Tiga kata sederhana ini akan bekerja secara ajaib menumbuhkan cinta dan rasa tanggung jawab dalam keluarga. Pekerjaan-pekerjaan akan dengan ringan dilakukan jika tidak berupa perintah, tapi dengan kesadaran akan pentingnya melaksanakan pekerjaan itu. Maka, biasakanlah meminta tolong saat butuh bantuan, bukan dengan perintah yang disampaikan dengan keras dan lantang. Pun demikian saat melakukan kesalahan, ringankan hati untuk segera meminta maaf.

Yang paling penting juga adalah mengucapkan terimakasih sebagai apresiasi atas kerjasama seluruh anggota keluarga. Apresiasi ini berlaku untuk semua. Suami dan anak yang mengucapkan terimakasih pada ibu saat menghidangkan masakan, tentunya akan membuat ibu merasa bahagia dan dihargai. Istri dan anak yang mengucapkan terimakasih pada ayah karena sudah bekerja keras mencari nafkah untuk keluarga tentunya akan membuatnya juga bahagia. Begitu pula anak yang menerima apresiasi ketika menyelesaikan tugas tepat waktu, bersikap baik dan seterusnya akan tumbuh menjadi anak yang bahagia.

Kesimpulan

Itulah 5 tips menjaga kebersihan dan kerapian rumah sekaligus menumbuhkan disiplin pada anak yang kelak akan bermanfaat menjadikannya sebagai pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab. Tak ada sekolah menjadi orang tua. Sesungguhnya setiap orang tua sedang belajar, setiap anak juga belajar. Saling menyesuaikan diri satu sama lain. Belajar bersama, di sekolah kehidupan.

Balik lagi ke kutipan manis diatas, memang ada saatnya rumah ramai, berantakan dan “kotor”. Itu menunjukkan ada kegiatan didalamnya. Ada interaksi diantara penghuninya. Tapi tentu saja, ada rambu-rambunya sebagai penjaga agar tak sampai kebablasan.

Teman-teman punya tips lainnya? Berbagi yuk

Salam
Arni

Author