Well, inilah yang akhirnya saya putuskan semenjak resign dan menikah. Menjadi momblogger. Apa sih momblogger? Itu lho, ibu-ibu yang suka menulis dan mengunggah tulisannya di blog atau web baik yang dikelola sendiri maupun milik pihak ketiga.

Menjadi Momblogger

Sebenarnya tidak serta merta saat resign dan menikah saya langsung memutuskan menjadi momblogger. Tetapi justru pilihan ini hadir setelah saya secara resmi menjadi seorang ibu. Berikut adalah alasan saya yang mungkin juga dirasakan oleh beberapa momblogger diluar sana.

  1. Mendokumentasikan Tumbuh Kembang Anak
    Setelah melahirkan Kafa, saya tidak ingin ia kehilangan momen masa kecilnya menguap begitu saja. Saya ingin ia tahu bahwa saya peduli akan tumbuh kembangnya dan salah satu bukti cinta kasih saya kepadanya adalah dengan menuliskan perkembangannya sejak ia berada di dalam kandungan hingga saat ini.

    Bukan berarti yang tidak menulis tumbuh kembang anak tidak sayang anak lho. Tetapi inilah cara yang saya tempuh agar kelak ia tahu bahwa seperti itulah kenangan masa kecilnya. Agar ia dengan mudah mengakses sejarah hidupnya tanpa perlu kesulitan bertanya jika seandainya terjadi kemungkinan terburuk sekali pun.

  2. Healing Soul
    Apa iya menjadi momblogger bisa menyembuhkan jiwa dan meringankan beban pikiran. Dalam sebuah Jurnal Keperawatan Jiwa Volume 7 yang saya baca, ada sebuah penilitian yang dilakukan oleh Susanti Niman yang berjudul โ€œPengaruh Terapi Menulis Ekspresif Terhadap Tingkat Kecemasan Remaja Korban Bullyingโ€. Pada penilitian tersebut didapatkan hasil secara analitik dan deskriptif bahwa ada pengaruh terapi menulis ekspresif secara signifikan terhadap tingkat kecemasan.

    Artinya apa? Ya! Menjadi seorang ibu tidak lah mudah, akan ada banyak kebaperan, kelelahan, kecemasan, kewaspadaan, kemarahan, dan emosi lainnya yang membuat mental dan psikis seorang ibu diuji. Tetapi dengan menulis, maka saya sebagai seorang ibu merasakan bahwa ada penurunan emosi yang saya rasakan apabila emosi tersebut disalurkan ke dalam sebuah tulisan.

  3. Membantu Perekonomian Rumah Tangga
    Jangan disangka menjadi momblogger isinya hanya sekedar curhat. Big NO! Karena sudah banyak tulisan momblogger lainnya yang saya temui dan tulisan tersebut adalah tulisan-tulisan yang menghasilkan pundi-pundi rupiah. Bisa dari ajang lomba blog, kontes seo, content placement, review produk, blogpost partnership, guest post berbayar, dan masih banyak lainnya.

    Tidak tanggung-tanggung, bahkan tidak sedikit momblogger yang bisa berwisata ke luar negeri ataupun berkeliling Indonesia secara cuma-cuma dan akomodasi lainnya ditanggung oleh penyelenggara karena dari menulis.

    Bahkan ada beberapa momblogger yang saya ketahui sebelumnya adalah working mom dan memutuskan untuk menjadi fulltime momblogger karena dari hasil menulis di blog saja mereka mampu menjadikan pekerjaan ini sebagai penopang finansial keluarga.

  4. Selebrasi Pencapaian Diri
    Mungkin sebelum menikah kita memiliki harapan untuk pencapaian-pencapaian tertentu. Namun jangan salah, menjadi seorang momblogger bisa menjadi sebuah aktualisasi diri bahwa perempuan bisa tetap berkiprah meski sudah berumah tangga. Menjadi momblogger bisa memutuskan rantai tradisi sumur, kasur, dan dapur.

    Ibunda Kartini pun akan bahagia karena jejaknya menjadi seorang perempuan yang gemar menulis tetap digaungkan oleh momblogger. Karena menjadi momblogger adalah salah satu cara mendapatkan hak dan kesempatan yang sama dengan blogger lainnya baik itu perempuan single maupun laki-laki.

    Apalagi jika predikat momblogger sudah menjadi personal branding dalam kehidupan kita. Jika sudah seperti ini, maka predikat tersebut bisa dijadikan sebagai pencapaian diri dan portofolio baru yang bisa digunakan untuk bekerja sama dengan jangkauan yang lebih luas.

  5. Menjadi Sumber Ilmu Pengetahuan
    Hanya perempuan yang tahu rasanya menstruasi, mengandung, melahirkan, nifas, dan menyusui. Jika pengalaman biologis tersebut tidak ditulis oleh perempuan, maka akan banyak sumber ilmu pengetahuan yang terlewatkan dua generasi.

    Ya, dua generasi. Karena jika kita mendidik seorang perempuan, maka kita telah mendidik minimal dua generasi yaitu generasi sang ibu dan kemudian generasi keturunannya (anaknya).

    Perempuan dalam hal ini menjadi subyek yang penting untuk sumber ilmu pengetahuan agar mendapatkan kesetaraan, hidup yang lebih layak, kesejahteraan, kenyamanan dan perlindungan, serta mendapatkan fasilitas yang optimal untuk meminimalisir rasa sakit yang diderita akibat pengalaman biologis yang dirasakan.

  6. Strategi Advokasi
    Sebenarnya masih banyak alasan lainnya, tetapi di artikel ini saya tulis sebagai penutup mengapa saya memilih untuk menjadi momblogger. Jika kita menulis maka kita akan abadi. Begitulah yang Ibunda Kartini lakukan. Untuk merubah tatanan patriarki dan emansipasi wanita, beliau melakukan women empowerment dengan banyak kegiatan yang salah satunya adalah dibidang literasi.

Semakin banyak tulisan yang ditulis oleh seseorang, akan semakin banyak ilmu yang didapat untuk generasi mendatang. Semakin banyak perempuan menulis pengalaman perempuan baik secara biologis maupun berdasarkan ekonomi sosial budaya politik dan lingkungan, maka akan semakin banyak perempuan yang semula tidak mendapati akses kehidupan yang layak dan tidak berani bersuara menjadi tertolong akan gerakan ini.

Semakin banyak perempuan yang berdaya, maka akan semakin banyak strategi advokasi yang dihasilkan dan menciptakan kebijakan-kebijakan yang ramah terhadap perempuan dan anak. Jadi, begitulah alasan mengapa memilih menjadi momblogger. Bagaimana dengan kamu?

Blog penulis: https://www.iffiarahman.com