Saya sudah lama mengenal burung puter pelung. Nenek saya dulu memelihara burung tersebut. Saya sangat ingat dengan suara khasnya, kuk gerruuuk Koook. Kata ibu saya, nenek melihara puter pelung sebagai penanda waktu alias alarm hidup.

Kali ini saya ingin membahas tentang burung Puter Pelung sebagai peliharaan. Setelah saya mencari tahu melalui google, ternyata burung ini cukup menarik untuk dipelajari loh. Banyak fakta dan mitos terkait burung ini yang tentunya tidak dimiliki oleh burung lainnya.

Ciri-Ciri Burung Puter Pelung

Burung puter pelung dengan nama ilmiah Streptopelia risoria adalah burung yang perawatannya cenderung mudah. Dikenal jinak terhadap pemilikinya dan sangat produktif atau mudah berkembang biak. Memakan biji-bijian seperti beras dan jagung.

Burung puter pelung berwarna coklet muda. Di punggung lehernya ada garis berwarna hitam. Selain berwarna cokelat muda, ada juga yang berwarna putih. Lebih dikenal dengan sebutan puter pelung albino.

Orang awam (soal Puter Pelung), kemungkinan akan sulit membedakan antara Puter Pelung, Merpati, dan Dederuk secara fisik. Tapi dari segi bunyi siapapun dapat membedakannya. Sebab Puter Pelung punya suara khas yang panjang dan merdu, kuk gerruk kooook.

Membedakan Burung Puter Pelung Jantan dan Betina

Burung Puter Pelung jantan dan betina memiliki warna yang sama. Sehingga, cara membedakannya bisa dengan melihat postur tubuh dan suranya. Puter Pelung jantan memiliki postur tubuh yang lebih besar dibanding betina. Sorot matanya juga lebih tajam. Suara nyanyiannya pun lebih lantang.

Streptopelia risoria, Burung Berumur Panjang

Diperkirakan, Streptopelia risoria alias Puter Pelung memiliki umur panjang. Bisa sampai puluhan tahun. Disebutkan bahwa burung ini rata-rata berumur 15 tahun. Namun tetap tidak menutup kemungkinan lebih dari 15 tahun. Asal dirawat secara optimal. Kalau di keluarga saya sendiri beredar kabar bahwa Puter Puleng yang dirawat nenek umurnya sudah 40 tahunan. Wah panjang umur sekali memang. (Entah benar atau tidak soal burung Puter Pelung nenek ini)

Bukan Burung Endemik Indonesia

Selama ini, banyak yang beranggapan bahwa Burung Puter Puleng merupakan burung endemik atau asli Indonesia. Lantaran burung ini sudah klangenan –kesenangan– masyarakat Indonesia sejak dulu . Ternyata tidak demikian.
Burung Puter Pelung merupakan hewan hasil domestikasi dari African Collared Dove. Arti domestikasi sendiri di KBBI adalah ‘penjikanakan hewan liar atau hewan buas dan sebagainya’. Pada abad ke-16, burung ini juga sudah banyak ditemui di belahan Eropa.

Mitos yang Beredar di Masyarakat

Sudah tidak aneh, banyak sekali mitos yang beredar di masyarakat terkait dengan hewan peliharaan. Sebut saja burung Perkutut, ia dipelihara dipercaya sebagai pembawa keberuntungan bagi pemiliknya. Sama halnya dengan burung Puter Pelung ini. Ia dipelihara karena dipercaya sebagai hewan pembawa rezeki. Puter atau muter dimaksudkan rezeki sang pemilik dapat terus berputar dengan baik.

Menang Lomba, Harga Semakin Mahal

Berbicara harga dari burung Puter Pelung tentunya bervariasi. Tergantung jenis, umur, dan apakah pernah menang lomba atau tidak. Yang jelas, jika pernah menang lomba maka harganya bisa mencapat jutaan. Sementara untuk yang biasa harga berkisar antara Rp. 100.000 sampai Rp. 700.000. Burung ini juga sudah banyak dijual secara online melalui market place.

Suara Khas Sebagai Penanda Waktu

Kekhasan puter pelung memang terdapat pada bunyinya. Jika didengarkan dengan seksama, puter pelung akan mengeluarkan suara yang berirama merdu. Bunyi yang terdiri dari kata ‘kuk gerruuuk kooook’ menghasilkan harmoni yang indah. Bunyi depan yang ditekan. Bunyi tengah dan bunyi akhir begitu panjang.

Tak hanya merdu dan enak didengar, bunyi burung Puter Pelung juga berfungsi sebagai penanda waktu atau alaram hidup. Lebih tepatnya, burung ini membantu mengingatkan sang pemiliki pada waktu-waktu tertentu.

Misal, burung ini selalu mengeluarkan suara merdunya setiap ¼ jam sekali. Nyanyiannya di pagi hari sebagai pertanda bahwa sang pemiliki sudah waktunya pergi bekerja ke sawah. Saat pulang sang pemilik pun akan disambut dengan riang.

Saat ini burung Puter Pelung memang sudah kalah pamor dengan burung-burung baru. Seperti burung love bird. Pemeliharanya pun sudah tak sebanyak dulu. Tapi tetap saja, keunikan dan fungsinya tak dapat dikalahkan apalagi digantikan. Maka sudah sepantasnya jika burung ini masih tetap memiliki peminat tersendiri sampai saat ini.

Author