Menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah. Anak adalah ujian kesabaran dengan segala sifat dan karakter yang mungkin belum sesuai keinginan orang tua. Marah terkadang menjadi pilihan orang tua, padahal kondisi satu ini sangat bisa mengganggu mentalnya.

Bagaimana jika sudah terlanjur terjadi? Adakah cara memperbaiki mental anak yang sering dimarahi?

Tentu saja ada! Apalagi jika orang dewasa yang melakukannya benar-benar menyesal dan ingin berubah. Orang tua bertekad untuk tidak lagi melampiaskan kemarahan kepada anak.

Cara Memperbaiki Mental Anak yang Sering Dimarahi

Dalam agama Islam, membentuk anak agar berkarakter baik tidak bisa dilakukan dengan cara keras apalagi otoriter. Rasulullah mengajarkannya dengan keteladanan dan konsistensi.

Orang tua harus bersabar, seperti Rasulullah bersabar ketika cucunya, Hasan dan Husen menaiki punggung saat beliau salat. Rasulullah tidak marah dan menunggu cucunya turun, meski salat menjadi lebih lama.

Kebiasaan baik yang ingin diterapkan pada anak harus dilakukan pula oleh orang tua, dilaksanakan terus menerus, sehingga melahirkan karakter baik. Karena anak otomatis mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya.

Dampak memarahi anak memang beragam bentuknya, seperti anak menjadi takut dan tidak percaya diri, perkembangan otaknya terganggu, depresi, melampiaskan kemarahan kepada hal negatif, dan yang paling sering adalah ikut menjadi pemarah.

Tentu kita tidak mau memperoleh dampak ke depannya akibat anak sering dimarahi? Di bawah ini beberapa cara untuk memperbaikinya. Simak sampai akhir ya!

1. Minta Maaf

Meminta maaf sudah tentu menjadi tanda kebesaran hati seseorang. Ini mengajarkan anak untuk jadi pemaaf. Anak durhaka banyak dituliskan dan diceritakan di berbagai media. Namun, sebenarnya orang tua juga tidak menyadari perilakunya juga durhaka terhadap anak. Istilah populernya saat ini adalah toxic parents.

Ketika anak sudah dimarahi maka segeralah meminta maaf. Jelaskan kembali dengan kalimat yang lebih tenang dan santun, alasan kita marah.

Tentu saja, setelah meminta maaf pastinya harus benar-benar menepati janji. Ketika akan marah, coba segera ber-istighfar dan menjauh dari si kecil beberapa menit.

2. Luangkan Waktu

Coba luangkan waktu untuk mereka. Temani dan sesekali ajak mereka bicara meskipun dalam kondisi bermain atau aktivitas lainnya. Ini menjadi proses memperbaiki hubungan agar anak tidak trauma. Secara perlahan, anak akan dapat mengembalikan kepercayaan diri karena kedekatan yang dibangun.

Menemani si kecil dalam aktivitas juga membuat orang tua lebih mengenali kondisi yang terjadi dan melihatnya dari kaca mata anak-anak.

3. Beri Kesempatan Anak Meluapkan Emosi

Anak menangis jika dimarahi merupakan hal yang wajar. Begitu pula jika sesuatu yang ada tidak sesuai dengan keinginan.
Biarkan mereka meluapkan emosi dengan menangis atau menutup diri selama beberapa saat. Itu bukan hal yang terlarang.

Dengan meluapkan emosi, kekesalan hati mereka juga ikut mereda. Mereka lebih mudah pula dibujuk dan membuka hati. Selain itu, anak yang meluapkan emosi dengan cara benar akan jauh dari penyakit

4. Mendengarkan Anak Bicara

Terkadang orang tua merasa bahwa anak-anak tidak akan memahami. Bisa jadi anak juga merasakan sebaliknya.
Bicaralah dari hati ke hati.

Biarkan anak membicarakan keluh kesahnya. Dengarkan saja seremeh apapun atau sekecil apapun. Karena dari situ anak berani mengungkapkan isi hati dan pikirannya.

5. Tunjukkan Kasih Sayang

Peluk anak saat ingin memarahinya. Perhatikan dengan saksama wajahnya, niscaya kemarahan akan hilang. Tunjukkan padanya bahwa apa pun kesalahan yang sudah dibuat, orang tua akan selalu sayang. Asalkan kesalahan itu tidak diulang lagi.

Begitu pula pada anak yang merasa ketakutan karena sering dimarahi. Tunjukkan rasa sayang dan perhatian, sambil terus mengingatkan diri untuk tidak emosi lagi kepada buah hati.

6.Berikan Rasa Aman dan Nyaman

Akibat anak sering dibentak dan dipukul mentalnya jatuh. Mereka kurang percaya diri sehingga takut melakukan apa saja. Orang tua haru memberikan rasa aman dan nyaman akan meningkatkan kepercayaan diri itu kembali.

Dukung semua aktivitas anak selama itu masih dalam batas aman, wajar dan jika berisiko sudah tugasnya orang tua mendampingi. Jangan menghakimi setiap tingkah laku anak terlalu cepat, meskipun kita kurang atau tidak setuju. Kita bisa menyampaikan pendapat dengan hati-hati.

7. Tidak Berbohong

Saya pernah merasakannya sekali dan tak akan saya ulangi lagi. Jangan pernah berbohong. Disiplin tetap harus ditegakkan dengan cara baik agar anak tahu mana kebiasaan baik dan buruk. Saat ada aturan yang dilanggar, sampaikan ketidaksukaan tanpa harus marah-marah.

Well, 7 cara memperbaiki mental anak yang sering dimarahi ini masih terus saya jalankan. Dengan menerapkannya, saya tidak hanya menolong anak dan masa depannya, tetapi juga diri sendiri.

Yuk, jangan biarkan amarah kita menjadi penyesalan kemudian.

Author