Memiliki buku dengan nama sendiri tercantum di cover sebagai penulisnya adalah sebuah gengsi tersendiri. Sebuah personal branding. Yuk berkarya dari blog jadi buku.

Menulis Buku

“Saya tidak bisa menulis panjang sampai ratusan halaman.” Banyak yang beralasan seperti itu.

Sebenarnya tidak perlu menulis panjang-panjang untuk menghasilkan sebuah buku.

Ada penulis buku yang memiliki “napas panjang”. Sudah seratus halaman tapi belum juga usai. Seperti tak habis-habis isi kepalanya dituliskan.

Namun, ada juga penulis yang hanya kuat menulis 2-3 halaman. Bukan karena kepalanya tak berisi. Napas menulisnya memang pendek. Isi kepalanya tumpah menjadi banyak tulisan, tetapi pendek-pendek.

Selesai ditulis dalam sekali duduk. Selesai dibaca dalam sekali rebahan.

Menulis panjang dan menulis pendek sama-sama memiliki kemudahan dan kesulitan tersendiri. Sama-sama mempunyai tantangan.

Dari Blog Jadi Buku

Bagaimana penulis dengan napas pendek bisa menulis buku?
Gampang saja. Buat buku berjenis butiran. Satu buku berisi banyak tulisan pendek.

Pasti tahu antologi yang dibuat beramai-ramai oleh banyak orang, kan? Satu buku berisi (katakanlah) 25 tulisan dari 25 penulis.

Nah, seperti itu. Bedanya, sekarang 25 tulisan itu semuanya adalah buah pikiran kita sendiri. Tak ada tulisan orang lain.

Hal yang Harus Diperhatikan Ketika Menulis Buku

Seorang blogger tentulah memiliki banyak tulisan di blognya. Mengapa tidak mengumpulkan tulisan-tulisan itu menjadi satu buku?

Jika ingin membuat buku dari tulisan-tulisan di blog, ada 4 hal yang perlu diperhatikan.

1. Manfaat

Blog bisa dibaca secara gratis oleh siapa pun. Pembaca hanya bermodal kuota internet. Kalau suka, terus membaca. Kalau tidak, ya tinggalkan.

Paling-paling pembaca yang kesal hanya akan berkata, “Kembalikan lima menitku yang berharga!”

Berbeda dengan buku. Pembaca harus mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli buku. Ketidakpuasan mereka bisa tumpah dalam ulasan negatif, bahkan mencaci maki.

Di sisi lain, penerbit pun harus mengeluarkan uang puluhan hingga ratusan juta rupiah untuk memproduksi satu judul buku secara massal.

Tentu penerbit tidak mau berinvestasi sebesar itu untuk tulisan yang tidak bermanfaat.

Di blog penulis bisa bebas curhat. Bebas pula menjadikan blognya sebagai etalase produk sponsor.

Jika dibukukan, apakah curhatan itu bermanfaat juga bagai orang lain? Apakah kumpulan tulisan bersponsor tidak akan membuat pembaca merasa membeli buku kumpulan iklan?

2. Tema

Bagi blogger dengan niche khusus, seperti traveling atau kuliner tentu hal ini lebih gampang. Tulisan-tulisan di blog sudah dalam satu tema besar.

Bagaimana dengan blogger lifestyle alias blogger gado-gado? Blogger seperti ini menulis dengan tema palugada. Apa lu mau gua ada.

Yang harus dilakukan adalah memilah-milah tulisan. Pilih tulisan yang memiliki kesamaan tema.

Kalau sudah terbiasa mengelompokkan tulisan di blog dalam label-label tertentu, proses ini pastinya akan lebih mudah.
Bagaimana jika ternyata jumlah tulisan yang satu tema terlalu sedikit?

Daripada memaksakan memasukkan tulisan dengan tema yang tidak nyambung, lebih baik membuat tulisan baru. Itu akan sekaligus menjadi nilai plus.

Mirip seperti novel-novel di platform digital yang akan dibukukan. Ada beberapa bab yang disembunyikan atau ada bab baru yang tidak ada di versi digitalnya ketika menulis buku.

3. Teknis penulisan

Media buku berbeda dengan blog. Ketika tulisan di blog akan dibukukan, blogger perlu melakukan penyesuaian-penyesuaian.

Di blog bisa dengan mudah memberikan tautan ke tulisan lain. Tidak demikian halnya dengan buku. Bukan hanya buku cetak, tetapi juga e-book.

Misalnya dalam penulisan sumber referensi. Di blog bisa saja sekadar menulis nama webnya disertai link hidup ke artikel yang dijadikan referensi. Pembaca bisa langsung mengecek ke sumbernya,

Ketika akan diubah menjadi buku, sumber referensi ini harus ditulis lengkap. Nama web, nama penulis di web rujukan, tanggal publikasi artikel, judul artikel, link artikel, serta tanggal tulisan tersebut diakses.

4. Swasunting

Ketika menulis artikel untuk blog, blogger pasti melakukan swasunting (self editing). Swasunting pun harus dilakukan ketika tulisan di blog akan dibukukan.

Tulisan di blog sering mengandung kata kunci tertentu yang menyimpang dari kaidah penulisan bahasa Indonesia. Tak jarang kalimatnya pun terasa dipaksakan demi mengejar kesesuaian dengan kata kunci.

Di tahap swasunting ini, penulisan kata dan kalimat tersebut diperbaiki. Kesalahan yang sering terdapat dalam artikel di blog pribadi adalah penulisan kata depan, imbuhan, serta pemilihan kata yang tidak tepat.

Lazimnya, penerbit memiliki editor yang akan melakukan penyuntingan. Namun, yang paling memahami isi tulisan adalah penulisnya.

Editor buku hanya akan membantu memoles naskah agar menjadi semakin cantik dan enak dibaca.

Selamat berbagi kebaikan dengan menulis, keren kan dari blog jadi buku.

 

Author