Berdamai dengan diri sendiri untuk merelakan hewan kesayangan pergi untuk selamanya bukanlah hal mudah. Ya, saya sendiri contohnya. Bertahun-tahun memelihara anabul di rumah, sekalinya ditinggal rasa sedihnya berlarut-larut. Ada yang pernah mengalami juga?

Saat si anabul sakit, saya selalu berusaha langsung mengobati atau memanggil dokter hewan agar lebih cepat ditangani. Saat dia lapar, saya buru-buru memberinya makanan favorit dan perasaan bahagia datang saat ia bisa menghabiskannya dengan lahap. Atau pada saat ada waktu luang, saya biasa bermain dengannya untuk sekedar melepas penat setelah seharian bekerja.

Melihat binar matanya, wajahnya atau kibasan ekornya sungguh menjadi mood booster saya setiap waktu. Seperti itulah, selalu ada hal menyenangkan saat kita memelihara anabul di rumah. Istilah ‘anabul’ sendiri bisa diartikan sebagai anak bulu, sering diucapkan oleh para pecinta hewan atau mereka yang senang memelihara hewan di rumah. Beberapa anabul memang populer menjadi sahabat manusia. Ada yang tahu apa saja?

Cinta untuk Anabul Membawa Bahagia

Terhitung sejak jaman SD, saya sudah kehilangan anabul sebanyak lima kali. Ada yang karena sakit tua, ada pula yang dijahilin orang hingga dia tiada. Saat bertemu pertama kali dengan seekor anabul dan kami memiliki keinginan untuk merawatnya, sejak itulah kami berkomitmen untuk menanggung segala hal yang ada padanya. Kondisi sehat maupun sakit, cinta yang tak terbatas kami curahkan untuknya.

Mungkin saya tidak memiliki rumah berpagar dengan halaman luas yang bisa menampung mereka dengan cukup aman. Tak pula seperti para pesohor yang memanjakan anabulnya dengan fasilitas kemewahan dan menjamin bulunya licin dengan aneka treatment-nya. Ya, anabul kategori ini memang memesona, tak heran jika banyak pujian yang dilayangkan padanya.

Sedikit cerita, keluarga saya sendiri pernah memelihara kucing dan anjing. Namun peliharaan saya, terutama si kucing rata-rata bisa dikatakan ‘portable’ banget alias suka pindah-pindah karena dia adalah kucing liar yang sering saya beri makan.

Nah, gara-gara itu, dia jadi sering menyambangi rumah, untuk sekedar say hello kepada kami dan minta “jatah” makan malam. Hihihi, lucunya, dia selalu datang di jam yang hampir sama setiap harinya. Humm, pandai juga ya kamu puss 😀

Selain kucing, rumah kami juga menjadi lebih berwarna saat memelihara anjing. Butuh proses adaptasi yang tak sebentar agar anabul ini percaya bahwa kami sungguh menyayanginya. Bisa jadi karena saat diadopsi pertama kali, usianya sangat muda sehingga masih takut dengan manusia. Atau faktor lainnya, si anabul memiliki trauma masa lalu dengan owner lamanya sehingga butuh waktu untuk mengenal kami.

Hal-hal Unik saat Bersahabat dengan Anabul

Bagi para pecinta hewan, kebersamaan dengan mereka adalah momen menyenangkan yang tak selalu bisa diulang. Selayaknya manusia, hewan memiliki otak untuk berpikir, juga sebagian lagi memiliki ‘rasa’ yang tak jarang bisa menyatu alias ‘sehati’ dengan ownernya.

Sepanjang saya merawat anabul dari waktu ke waktu, ada beberapa hal unik yang saya rasakan bersama mereka. Apa saja itu?

1. Menjadi Mama Papa Anabul

Pernah gak sih merasa bahwa anabul yang kita pelihara itu layaknya seorang anak? Ya, anak kecil yang membutuhkan perhatian sepanjang waktu. Makan minum harus disiapkan, mau mandi ya harus dimandikan atau saat jalan-jalan keluar rumah ya harus ditemani. Tak jarang pula owner yang rajin mengajak ngobrol sehingga lama-lama si kucing atau anjing menjadi paham dengan bahasa manusia, juga gerak-gerik kita selama berada di rumah.

2. Menghangatkan Rumah

Para pemilik anabul mungkin sudah memahami bahwa di umur 3 bulan hingga 1 tahun, peliharaan mereka sangat gemar gigit-gigit benda yang ada di sekitarnya. Sepatu, kaos kaki, keset, botol atau apapun yang terjangkau si anabul bisa jadi target gigitannya. Hihihi…

Tak jarang kalau si owner marah atau mengucap kata dengan nada tinggi, si anabul bakal diem ngumpet atau pamerkan wajah melas (mengiba). Hehehe… Tenang, marahnya ini gak beneran kok, hanya ingin mendidik biar anabulnya disiplin. Ada pula anabul yang suka terpeleset saat ia berlari di dalam rumah karena lantai licin. Ini kadang membuat seisi rumah tertawa terbahak melihat tingkahnya walau hati kecil si anabul mengatakan, “Uhh, bukannya ditolong mahal diketawain….”

3. Membaca Suasana Hati

Satu anabul saya yang sudah tiada kebetulan betina, dan baru kali ini saya memelihara betina. Nah, dia memiliki kebiasaan yang unik sekaligus tanda manja saat saya rebahan, yaitu suka nglendot di samping saya dengan kepala yang disenderkan di perut saya. Sambil bertatap mata, dia seakan ingin mengatakan sesuatu. Ya, jika dia bisa ngomong seperti manusia, mungkin bilang gini, “mom, pingin es krim…”

Ada juga anabul saya yang dulu, walau hanya anak “kampung” namun instingnya luar biasa. Saat ada anggota keluarga yang sakit, dia selalu menemani di samping tempat tidur untuk memastikan bahwa kami baik-baik saja.

Saat hendak bepergian pun, dia selalu berlari mengejar kendaraan kami dengan tujuan melindungi. Namun saat kami hentikan perjalanan dan mencoba ngobrol dengannya, dia langsung pulang dan merelakan kami untuk pergi.

Saya yakin, masih banyak kisah manis lainnya dari teman-teman saat berkesempatan merawat anabul kesayangan. Kucing dan anjing adalah dua anabul menggemaskan yang sangat bisa kita jadikan sahabat dan pelindung saat berada di area rumah. Impian saya tak muluk, yaitu memiliki rumah yang lebih aman dan nyaman untuk anabul-anabul saya di masa mendatang.

Sebuah curahan hati tentang anabul, ciptaan Tuhan yang tak selalu beruntung nasibnya. Andai boleh saya berpesan, jika ada anabul liar di sekitar kita, berilah mereka makan karena hidup mereka tergantung dari belas kasih manusia atau kurang mujurnya ya memunguti sisa-sisa makanan yang ada di sampah. Andai pun tak bisa berbagi tak masalah, asal jangan sakiti mereka. Biarlah mereka hidup dengan cara mereka sendiri.

“There’s a saying. If you want someone to love you forever, buy a dog, feed it and keep it around.” – Dick Dale

Sebagian orang gemar memelihara kucing karena wajah imut dan manjanya yang bikin gemes maksimal. Sebagian lagi kategori dog lovers atau penyayang anjing yang senang dengan kecerdasannya memahami bahasa manusia, aktif saat diajak bercanda dan berbagai perilaku lainnya yang tak sedikit menghadirkan tawa orang serumah.

Author