3 Hal Unik ini Saya Rasakan Saat Memelihara Anabul

Berdamai dengan diri sendiri untuk merelakan hewan kesayangan pergi untuk selamanya bukanlah hal mudah. Ya, saya sendiri contohnya. Bertahun-tahun memelihara anabul di rumah, sekalinya ditinggal rasa sedihnya berlarut-larut. Ada yang pernah mengalami juga?

Saat si anabul sakit, saya selalu berusaha langsung mengobati atau memanggil dokter hewan agar lebih cepat ditangani. Saat dia lapar, saya buru-buru memberinya makanan favorit dan perasaan bahagia datang saat ia bisa menghabiskannya dengan lahap. Atau pada saat ada waktu luang, saya biasa bermain dengannya untuk sekedar melepas penat setelah seharian bekerja.

Melihat binar matanya, wajahnya atau kibasan ekornya sungguh menjadi mood booster saya setiap waktu. Seperti itulah, selalu ada hal menyenangkan saat kita memelihara anabul di rumah. Istilah ‘anabul’ sendiri bisa diartikan sebagai anak bulu, sering diucapkan oleh para pecinta hewan atau mereka yang senang memelihara hewan di rumah. Beberapa anabul memang populer menjadi sahabat manusia. Ada yang tahu apa saja?

Cinta untuk Anabul Membawa Bahagia

Terhitung sejak jaman SD, saya sudah kehilangan anabul sebanyak lima kali. Ada yang karena sakit tua, ada pula yang dijahilin orang hingga dia tiada. Saat bertemu pertama kali dengan seekor anabul dan kami memiliki keinginan untuk merawatnya, sejak itulah kami berkomitmen untuk menanggung segala hal yang ada padanya. Kondisi sehat maupun sakit, cinta yang tak terbatas kami curahkan untuknya.

Mungkin saya tidak memiliki rumah berpagar dengan halaman luas yang bisa menampung mereka dengan cukup aman. Tak pula seperti para pesohor yang memanjakan anabulnya dengan fasilitas kemewahan dan menjamin bulunya licin dengan aneka treatment-nya. Ya, anabul kategori ini memang memesona, tak heran jika banyak pujian yang dilayangkan padanya.

Sedikit cerita, keluarga saya sendiri pernah memelihara kucing dan anjing. Namun peliharaan saya, terutama si kucing rata-rata bisa dikatakan ‘portable’ banget alias suka pindah-pindah karena dia adalah kucing liar yang sering saya beri makan.

Nah, gara-gara itu, dia jadi sering menyambangi rumah, untuk sekedar say hello kepada kami dan minta “jatah” makan malam. Hihihi, lucunya, dia selalu datang di jam yang hampir sama setiap harinya. Humm, pandai juga ya kamu puss 😀

Selain kucing, rumah kami juga menjadi lebih berwarna saat memelihara anjing. Butuh proses adaptasi yang tak sebentar agar anabul ini percaya bahwa kami sungguh menyayanginya. Bisa jadi karena saat diadopsi pertama kali, usianya sangat muda sehingga masih takut dengan manusia. Atau faktor lainnya, si anabul memiliki trauma masa lalu dengan owner lamanya sehingga butuh waktu untuk mengenal kami.

Hal-hal Unik saat Bersahabat dengan Anabul

Bagi para pecinta hewan, kebersamaan dengan mereka adalah momen menyenangkan yang tak selalu bisa diulang. Selayaknya manusia, hewan memiliki otak untuk berpikir, juga sebagian lagi memiliki ‘rasa’ yang tak jarang bisa menyatu alias ‘sehati’ dengan ownernya.

Sepanjang saya merawat anabul dari waktu ke waktu, ada beberapa hal unik yang saya rasakan bersama mereka. Apa saja itu?

1. Menjadi Mama Papa Anabul

Pernah gak sih merasa bahwa anabul yang kita pelihara itu layaknya seorang anak? Ya, anak kecil yang membutuhkan perhatian sepanjang waktu. Makan minum harus disiapkan, mau mandi ya harus dimandikan atau saat jalan-jalan keluar rumah ya harus ditemani. Tak jarang pula owner yang rajin mengajak ngobrol sehingga lama-lama si kucing atau anjing menjadi paham dengan bahasa manusia, juga gerak-gerik kita selama berada di rumah.

2. Menghangatkan Rumah

Para pemilik anabul mungkin sudah memahami bahwa di umur 3 bulan hingga 1 tahun, peliharaan mereka sangat gemar gigit-gigit benda yang ada di sekitarnya. Sepatu, kaos kaki, keset, botol atau apapun yang terjangkau si anabul bisa jadi target gigitannya. Hihihi…

Tak jarang kalau si owner marah atau mengucap kata dengan nada tinggi, si anabul bakal diem ngumpet atau pamerkan wajah melas (mengiba). Hehehe… Tenang, marahnya ini gak beneran kok, hanya ingin mendidik biar anabulnya disiplin. Ada pula anabul yang suka terpeleset saat ia berlari di dalam rumah karena lantai licin. Ini kadang membuat seisi rumah tertawa terbahak melihat tingkahnya walau hati kecil si anabul mengatakan, “Uhh, bukannya ditolong mahal diketawain….”

3. Membaca Suasana Hati

Satu anabul saya yang sudah tiada kebetulan betina, dan baru kali ini saya memelihara betina. Nah, dia memiliki kebiasaan yang unik sekaligus tanda manja saat saya rebahan, yaitu suka nglendot di samping saya dengan kepala yang disenderkan di perut saya. Sambil bertatap mata, dia seakan ingin mengatakan sesuatu. Ya, jika dia bisa ngomong seperti manusia, mungkin bilang gini, “mom, pingin es krim…”

Ada juga anabul saya yang dulu, walau hanya anak “kampung” namun instingnya luar biasa. Saat ada anggota keluarga yang sakit, dia selalu menemani di samping tempat tidur untuk memastikan bahwa kami baik-baik saja.

Saat hendak bepergian pun, dia selalu berlari mengejar kendaraan kami dengan tujuan melindungi. Namun saat kami hentikan perjalanan dan mencoba ngobrol dengannya, dia langsung pulang dan merelakan kami untuk pergi.

Saya yakin, masih banyak kisah manis lainnya dari teman-teman saat berkesempatan merawat anabul kesayangan. Kucing dan anjing adalah dua anabul menggemaskan yang sangat bisa kita jadikan sahabat dan pelindung saat berada di area rumah. Impian saya tak muluk, yaitu memiliki rumah yang lebih aman dan nyaman untuk anabul-anabul saya di masa mendatang.

Sebuah curahan hati tentang anabul, ciptaan Tuhan yang tak selalu beruntung nasibnya. Andai boleh saya berpesan, jika ada anabul liar di sekitar kita, berilah mereka makan karena hidup mereka tergantung dari belas kasih manusia atau kurang mujurnya ya memunguti sisa-sisa makanan yang ada di sampah. Andai pun tak bisa berbagi tak masalah, asal jangan sakiti mereka. Biarlah mereka hidup dengan cara mereka sendiri.

“There’s a saying. If you want someone to love you forever, buy a dog, feed it and keep it around.” – Dick Dale

Sebagian orang gemar memelihara kucing karena wajah imut dan manjanya yang bikin gemes maksimal. Sebagian lagi kategori dog lovers atau penyayang anjing yang senang dengan kecerdasannya memahami bahasa manusia, aktif saat diajak bercanda dan berbagai perilaku lainnya yang tak sedikit menghadirkan tawa orang serumah.

Author

23 pemikiran pada “3 Hal Unik ini Saya Rasakan Saat Memelihara Anabul”

  1. Aaakkk… Mbak Riana pelihara gukguk yaaaa. Asik ketemu sesama dog lovers. Cuma sayangnya sekarang gak pelihara gukguk. Dulu waktu kecil pelihara, punya sampai lima ekor. Anjing kampung sih. Waktu itu tinggal bareng kakekku. Karena kakekku suka gukguk dan dia juga pelihara dua. Berhubung sekarang tinggal di rumah sendiri dan ibuku gak suka gukguk, jadinya gak pelihara. Cita-citaku kalau udah punya rumah sendiri pengen pelihara gukguk juga.

    Balas
  2. saya sampai hari ini belum pernah berdampingan dengan binatang mba Riana, saya suka tapi ga sampai yang memeliharanya, apalagi kucing, saya agak alergi dengan bulu-bulu binatang, jadi saya hampir tidak pernah bersentuhan dengan mereka

    Balas
  3. aku sendiri nggak pernah punya hewan peliharaan sampe sekarang. beda dengan adikku yang kadang melihara semacam ikan, kadang ayam juga, kepiting kecil. kayaknya rumah mirip kayak bonbin
    asal rajin merawat aja ya

    Balas
  4. Iya, kucing dan anjing emmang bintatang yang dapat dipelihara dan dapat menghibur… kalau lihat kucing jalanan suka sedih.. kasihan.. apalagi banayk di atanra mereka yang sedang sakit.. tapi untuk memelihatanya juga tidak sanggup karena memangtak mudah memelihara binatang..

    Balas
  5. Di rumah ada Mashamellow yang suka mondar-mandir gigit kaki saya jika lapar dan akan pundung alias mellow jika tidak dikasih jatah pindang iris asap.

    Palung memanggilnya Bomeng, artinya bobo meng. Soalnya suka tidur tetus, he he.

    Marsha itu kucing kampung yang datang ke rumah kami dibawa Fajar teman Palung Juli lalu. Sudah 6 bulan bersama kami.

    Pada mulanya saya biarkan Palung pelihara kucing karena tidak tega anak kucing kecil itu tidak berdaya. Kesepakatannya jika sudah besar akan dilepas keluar. Nyatanya tidak tega juga sampai sekarang. Jadilah Marsha kucing peliharaan kami yang menghibur. Lincah dan suka melompat.

    Ya, ada banyak segi positif dengan pelihara anabul. Kita bisa berbagi rezeki dengan makhluk Tuhan, sekaligus melembutkan hati. Juga ada pengusir hama.

    Sehat selalu untuk anabul kita.

    Balas
  6. Beneran ya mbak, hewan jg bisa ngerti kalo kita marah. Mungkin krn nada bicara tinggi, jd mereka ngerti. Jd inget oreo kura2ku pernah dimarahin lak suami, trus seharian dia diem mojok terus di kandangnya. Setelah kubujukin sambil dielus2 badannya, baru dia mau jalan2 dan gak mojok lagi 😄

    Balas
  7. Kalau aku karena pernah pelihara dan mati, pernah ga mau pelihara lagi. Saya sampai bilang cuma mau pelihara kalau ada yg datang ke rumah. Eh, beneran ada yang datang. Yo wis akhire sekarang pelihara kucing yg datang itu. ..😅

    Balas
      • Aku suka kucing, waktu masih perawan dulu. Hihi (baca belum nikah). Kucing suka banget ngikutin aku. Padahal aku jarang kasih mereka makan. Tapi si kucing kayak lengket aja gitu sama aku..

        Sekarang sudah nikah, suami alergi banget sama kucing. Hemmmm…

        Balas
    • Sama nih seperti mba Sapti, pernah sengaja memelihara ikan dan kelinci tapi karena gak tau cara mengurusnya jadi sakit dan mati, jadinya merawat kucing liar saja, kasih makan dan memandikan tapi tidak dimasukkan ke dalam rumah karena statusnya kucing liar

      Balas
  8. Ketiganya udah aku rasain waktu punya kucing Mbak. Pernah waktu mau mudik dianterin kucing peliharaan ibu sampai jalan raya. Ibu dari dulu suka ngobrol sama kucing, aku juga akhirnya sama suka ngobrol sama kucing 🤣 Sayangnya untuk sementara ini belum bisa berkomitmen pelihara anabul lagi. Tapi dimanapun kami berada, pagar rumah kami selalu terbuka untuk anabul stray yang numpang makan dan berteduh karena berbagi rejeki dengan mereka gak bikin kere. Wkwk

    Balas
    • Wah mantab kak, berkenan memberi “rumah singgah” bagi kucing2 liar. Pasti deh itu kucing datangnya jadi rutin karena tahu pemilik rumahnya baik hati 😍

      Balas
    • Sepertinya topik blognya sama dengan blog saya yang keempat tentang hewan peliharaan. Saya juga memelihara kucing, dulu juga kelinci Angora, burung beo, hamster, dan merpati. Tapi sekarang memelihara kucing saja. Tentunya dengan memelihara hewan peliharaan ini ada semacam ikatan batin. Dulu kelinci saya mati lalu dikubur, besoknya mimpi bertemu kelinci tersebut seakan mengucapkan salam perpisahan lalu lari ke arah tembok luar, menembus tembok, dan menghilang. Sukses selalu

      Balas
      • Waduh, baper denger cerita ini kak Vicky. Semoga si kelinci sudah berlari-lari bahagia di surga ya. amin. ♥️ Bagaimanapun, mreka sudah seperti anggota keluarga sendiri begitu kita berkomitmen untuk membawa mereka di rumah. salam sehat selalu

        Balas

Tinggalkan komentar

BRT Network adalah arena bermain dan belajar para blogger untuk bisa berbagi ilmu, pengetahuan, update dunia blogging, untuk bertumbuh bersama-sama

Contact

BRT Network