Siapa yang masih awam tentang investasi? Angkat tangan! Siapa yang takut investasi karena ‘katanya’ butuh modal besar? Angkat tangan! Siapa yang nggak berani karena ‘katanya’ bisa bikin bangkrut? Yuk, saya temenin angkat kaki, eh angkat tangan.

Awal-awal punya uang sendiri alias dapat gaji, saya sama sekali nggak terpikir untuk investasi. Yang saya pikirkan hanya tiga, yaitu pertama adalah membeli apa yang dulu belum bisa saya beli, kedua adalah menabung dan ketiga untuk bayar kuliah.

Saya baru sadar tentang investasi justru saat awal menikah, lima tahun setelah setelah saya terima gaji pertama. Setelah menikah, urusan keuangan tentu lebih rumit dibandingkan saat masih single. Ada yang harus dipikirkan, seperti dana darurat, dana pendidikan anak dan dana pensiun. Dengan tabungan biasa, tentunya uang di bank akan tergilas inflasi. Dengan bunga yang tak seberapa justru lebih besar biaya administrasinya. Bukannya untung malah buntung. Huh!

Akhirnya saya tergerak juga untuk cari tahu tentang investasi. Di otak saya, investasi itu hanya terbatas pada logam mulia alias emas dan properti (tanah, rumah) yang butuh modal besar. Ternyata, investasi itu bisa dari modal kecil, loh! Bahkan hanya modal beberapa puluh ribu saja kita sudah bisa menjadi investor! Asik banget, kaaan?

5 jenis investasi modal minimal

Saya urutkan dari yang resikonya paling kecil. Tentunya dalam investasi berlaku hukum low risk low return, high risk high return, ya..

  1. LOGAM MULIA EMAS

Harga emas sedang naik daun beberapa bulan belakangan ini. Semenjak wabah Covid-19, emas jadi primadona para investor. Harga emas naik dari 800 ribuan di awal tahun ini hingga sekarang mencapai 1 jutaan pergramnya. Oh iya, emas ini bukan emas perhiasan seperti gelang atau kalung, tapi emas yang berbentuk kepingan dan tujuannya untuk disimpan.

Sebenarnya, emas lebih cocok disebut sebagai proteksi dari pada investasi karena sifatnya yang melindungi nilai mata uang. Emas disebut juga sebagai safe haven, artinya instumen yang nilainya dipercaya akan terjaga bahkan meningkat ketika terjadi krisis ekonomi.

Nah, untuk kalian yang berminat investasi emas, jangan bayangkan harus membeli emas batangan yang berkilo-kilo! Sekarang kita bisa beli emas yang berukuran mini, loh! Mulai dari ukuran 0.05 gram seharga 75.000 rupiah, kita sudah bisa membeli logam mulia ini. Modal minimal banget!

Sebagai perbandingan harga, harga 1 gram emas ANTAM di Desember 2015 kisaran 500 ribu dan sekarang September 2020 mencapai 1 juta. Dalam waktu 5 tahun, harga emas mengalami kenaikan 100%. Dalam kondisi normal, emas akan mengalami kenaikan 100 ribu pergramnya setiap 2-3 tahun.

Emas cocok untuk tipe investor konservatif, yaitu tipe investor yang cenderung menghindari resiko. Harga emas cenderung terus naik dengan tingkat fluktuasi rendah karena tidak sefluktuatif saham. Dengan sifat yang low risk, emas memberikan return yang rendah juga. Karena itu, emas lebih cocok sebagai investasi jangka menengah hingga panjang, misalnya untuk sebagian dana darurat atau pendidikan anak 5 tahun lagi.

Di mana beli emas ini? Saran saya, lebih baik membeli emas yang ada wujud fisiknya, seperti di gerai resmi ANTAM atau dijual perorangan.

  1. SURAT BERHARGA NEGARA (SBN) RITEL

Surat Berharga Negara (SBN) atau Surat Utang Negara (SUN) pasti masih awam di telinga masyarakat Indonesia. Melalui SBN/SUN ini, kita berinvestasi pada negara. Iya bener, kalian nggak salah baca kok! SBN/SUN ini memberikan kesempatan untuk kita, masyarakat Indonesia, untuk memberikan modal kepada pemerintah mewujudkan program-programnya. Pastinya investasi ini 100% aman dan anti gagal bayar karena dijamin oleh negara. Bisa dibilang nggak ada resiko!

Jenis SBN/SUN ini ada beberapa macam. Untuk yang jenis konvesional ada ORI (Obligasi Negara Ritel Indonesia) dan SBR (Saving Bond Ritel). Untuk yang jenis syariah ada ST (Sukuk Tabungan) dan SR (Sukuk Ritel).

Modal yang dibutuhkan untuk membeli surat berharga negara ini mulai dari 1 juta rupiah. Modal minimal dan lama tahun jatuh temponya (tenor) berbeda-beda.

ORI: modal minimal 1 juta – 5 juta, tenor 3 – 5 tahun
SBR: modal minimal 1 juta, tenor 2 tahun
ST: modal minimal 1 juta, tenor 2 tahun
SR: modal minimal 1 juta, tenor 3 tahun

Dari mana kita mendapat untung dari investasi SBN ritel ini? Dari kupon bunga atau imbal hasil yang akan dibayarkan setiap bulannya oleh pemerintah. Nilai minimal kuponnya biasanya bernilai fixed, misalnya 7% pertahun. Contohnya ST-005 memiliki kupon minimal 7.4% pertahun. Nilai kupon ini bisa naik (sesuai acuan Bank Indonesia) tapi tidak akan bisa turun. Dengan modal 1 juta rupiah, kita akan mendapat imbal hasil 62.900 rupiah pertahun atau 5.242 rupiah perbulan (setelah dipotong pajak 15%, fyi pajak deposito bank itu 20% dengan bunga yang lebih kecil).

Nominal ini akan otomatis masuk ke rekening kita setiap bulan selama tenor berlangsung. Nanti di akhir tenor, 1 juta kita akan kembali lagi. Jadi kalau ditotal di akhir, kita akan dapat 1.125.800 rupiah. Lumayan banget dibanding hanya disimpan di bank yang bunganya nggak seberapa tapi malah habis kena biaya administrasi yang belasan rupiah perbulan.

Di mana kita bisa membeli SBN ini? Di mitra distribusi (midis) yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tentunya. Daftar midis ini bisa dilihat di web atau IGnya Kementerian Keuangan.

Kapan kita bisa beli SBN? SBN ini sifatnya istimewa. Kita hanya bisa membelinya pada saat masa penawaran yang berkisar 2 minggu. Tapi tenang aja, biasanya pemerintah membuka 6 kali masa penawaran dalam setahun. Di awal tahun, IG Kemenkeu dan midis suka update jadwal SBN apa saja yang akan launching.

Sekarang daftar dan beli SBN sudah serba online. Jadi, ga perlu izin-izin kantor dan cukup via smartphone. Lewat SBN, kita juga ikut jadi pahlawan negara, loh!

  1. REKSADANA

Reksadana adalah sekumpulan dana yang dikelola oleh sebuah manajer investasi yang nanti diinvestasikan kembali ke dalam beberapa produk. Gampangnya gini, manajer investasi mengumpulkan dana dari beberapa orang, let’s say 100 ribu dari 10.000 orang. Total ada 1 milyar. Nah, 1M ini akan diinvestasikan ke dalam deposito, obligasi atau saham sesuai jenis reksadananya. Tentunya, kita akan mendapatkan imbal hasil/bunga dari investasi ini.

Reksadana ada beberapa jenis tergantung produknya, yaitu Reksadana Pasar Uang (RDPU), Pendapatan Tetap (RDPT), Saham (RDS) dan Campuran. Sifat reksadana ini fluktuatif ya, apa lagi Reksadana Saham yang mengikuti IHSG. Karena resikonya lebih besar dari emas dan SBN, pastinya return yang diberikan pun lebih tinggi.

Imbal hasil reksadana berbeda-beda juga. RDPU kisaran 5-8% pertahun, RPDT 8-12% dan RDS 5-25% tergantung kepiawaian manajer investasi. Kalau mau melihat berapa imbal hasil yang akan kita dapatkan, bisa lihat simulasi yang disediakan gratis oleh beberapa aplikasi marketplace reksadana.

Reksadana ini cocok untuk yang nggak mau ribet mengelola investasi. Modal minimal untuk bisa beli reksadana mulai dari 100 ribu. Sekarang sudah banyak kok aplikasi yang menyediakan pendaftaran online reksadana. Tapi tentunya harus terdaftar legal di OJK, ya!

Satu manajer investasi bisa punya banyak produk reksadana. Kita bisa pilih sesuai kebutuhan. Mau yang syariah juga bisa. Tinggal lihat ada label ‘syariah’ di nama produknya. Reksadana bisa untuk menyimpan dana darurat, dana pendidikan anak sampai dana pensiun tergantung kebutuhan investasi kita.

  1. INVESTASI SAHAM

Siapa yang masih takut investasi saham? Mungkin karena pernah mendengar cerita orang yang bangkrut ratusan juta dalam sekejap karena bermain saham. Atau saham identik dengan judi karena main tebak-tebakan harga. Nyatanya investasi saham nggak begitu, gaes!

Menurut KBBI, saham memiliki arti surat bukti pemilikan bagian modal perseroan terbatas yang memberi hak atas dividen dan lain-lain menurut besar kecilnya modal yang disetor. Intinya, saham itu adalah bukti kepemilikan nilai atas sebuah perusahaan.

Contoh sederhananya seperti ini. Temen A mau buka usaha warung bakso dan dia butuh modal 10 juta. Lalu kita membantu dia dengan memberikan modal 5 juta. Nah, artinya, kita sudah memiliki saham warung bakso A sebesar 50%. Kalau ada keuntungan tentu kita berhak atas bagi hasil keuntungan dari jualan bakso itu, kan.

Apakah kita bisa menjual saham bakso kita jika warung bakso A sudah maju? Tentu bisa. Kita bisa tawarkan saham yang kita miliki kepada teman B dengan nilai yang tentunya bukan 5 juta lagi. Misalnya sekarang nilai usahanya sudah 50 juta. Pastinya 50% saham naik menjadi 25 juta. Nah, kira-kira seperti ini jual-beli saham.

Investasi saham perusahaan modal pasti tidak sesimpel ini. Ada yang namanya pasar modal, tempat jual-beli saham perusahaan terbuka dengan jam bursa 09.00 – 12.00 dan 13.30 – 15.00 di hari kerja (Senin – Jumat). Kita bisa melakukan transaksi jual-beli saham di jam bursa ini. Pasar modal Indonesia diatur oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Ada lebih 600 perusahaan terbuka yang melantai di BEI. Kita bisa nih membeli saham perusahaan-perusahaan ini. Bisa kita lihat daftarnya di website BEI di idx.co.id.

Nah, siapa bilang investasi saham hanya untuk orang kaya? Ada loh perusahaan yang harga perlembar sahamnya hanya 750 rupiah! Artinya, kita bisa membeli 1 lot sahamnya dengan harga 75ribu saja! Contohnya SIDO alias Sido Muncul. Iya, yang jamu itu. Jumlah minimal membeli saham adalah 1 lot = 100 lembar. Murah, kan?

Pastinya masih banyak perusahaan-perusahaan yang di bawah harga ini.

Siapa bilang investasi saham itu jauh dari kehidupan sehari-hari? Coba deh, lihat ke sekeliling. Suka makan Indomie? Indofood melantai dengan kode ICBP. Pakai shampoo Clear? Punyanya Unilever dengan kode UNVR. Internet pakai Indihome? Itu milik telkom dengan kode TLKM. Gajian pakai bank, kan? BBNI, BMRI, BBRI, BBCA, BBKP, BRIS, BTPS dan mostly bank sudah melantai di bursa.

Di mana kita bisa investasi saham? Di perusahaan sekuritas yang terdaftar di OJK. Perusahaan sekuritas ini sekarang sudah punya aplikasi berbasis Android ataupun iOS. Daftarnya pun gampang banget! Biasanya ada yang udah fully online via aplikasi, tapi ada juga yang masih harus kirim berkas lewat email. Minimal daftarnya pun mulai 100 ribu rupiah, loh! Tergantung sekuritas yang dipilih.

Gimana ceritanya orang yang bangkrut dalam sekejap saat ‘main’ saham? Nah ini beda lagi ya ceritanya dengan investasi. Kalau main saham itu cenderung mengandung unsur spekulasi alias tebak-tebakan. Perusahaan yang dipilih pun cenderung kurang sehat sehingga pertumbuhannya tidak baik.

Kalau investasi saham yang baik adalah memilih perusahaan yang fundamentalnya baik, keuangannya baik, pertumbuhannya bagus. Ada beberapa analisis yang dipakai, seperti analisis fundamental dan teknikal. Merasa ribet? Kalau mau lebih simpel sih tinggal pilih perusahaan di daftar LQ45 atau IDX30.

Investasi saham ini termasuk yang high risk high return, ya… Keuntungan rata-rata pertahun bisa 10-30% tergantung portofolio saham kita. Tapi tentunya resikonya pun sama besarnya karena ada potensi harga perusahaan yang kita pilih terjun bebas atau bahkan delisting dari BEI. Oleh karena itu, kita harus memilih perusahaan yang bagus agar return yang kita peroleh pun maksimal.

Investasi saham itu riba? Tenang aja, melalui fatwa 80/DSN-MUI/III/2011 tentang Penerapan Prinsip Syariah dalam Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas Di Pasar Reguler Bursa Efek, MUI menetapkan bahwa hukum berinvestasi saham itu adalah halal. Kita tinggal pilih perusahaan syariah yang terdaftar di ISSI (Indeks Saham Syariah Indonesia). Mau yang lebih mantep lagi? Bisa ditengok ke daftar JII (Jakarta Islamic Index), baik JII30 maupun JII70.

Baiknya, investasi saham ini untuk jangka panjang, lebih dari 5 tahun. Jadi cocok untuk dana pendidikan anak SMP sampai kuliah ataupun dana pensiun. Pokoknya yang jangka waktunya masih lama.

  1. PEER-TO-PEER LENDING (P2P)

Peer-to-peer Lending (P2P) adalah salah satu fintech yang mempertemukan pemilik dana (investor atau lender) dengan peminjam (kreditur atau borrower). Proses pinjam-meminjam ini tidak melalui bank, tetapi melalui aplikasi. Pemilik dana mendapatkan return tinggi karena tidak ada bank, peminjam pun mendapatkan dana dengan syarat yang lebih mudah.

P2P ini masih baru di Indonesia. Di dalam P2P, pemilik dana bisa tahu dengan jelas siapa yang meminjam dana. Return dari P2P ini sekitar 18-20% pertahun. Tentunya lebih menarik dibandingkan emas atau SBN. Dengan modal minimal 100 ribu, kita sudah bisa investasi melalui P2P. Tapi resikonya pun sebanding karena ada potensi gagal bayar dari si peminjam. Kalau gagal bayar, ya hilang uang kita.

Karena investasi ini usianya masih muda, tentunya kita harus menganalisis lebih dalam tentang P2P, seperti status aplikasi, profil peminjam dan lembaganya pun harus terdaftar di OJK. P2P bisa jadi alternatif untuk diversifikasi portofolio investasi kita.

Pernah mendengar kiasan “Don’t put all of your eggs in one basket”? Begitu juga dengan investasi. Jangan terlalu fanatik dengan satu jenis investasi. Cobalah menyusun portofolio investasi dengan baik, misalnya 20% di emas, 20% di reksadana, 10% di P2P dan 50% di saham. Jika salah satu nilainya sedang turun, maka masih ada nilai yang naik.

Itulah 5 jenis investasi modal minimal, cuan maksimal!

Bagaimana? Sudah tertarik dengan dunia investasi? Yuk, mulai investasi demi keuangan masa depan yang lebih baik!

Salam cuan!

Ditulis oleh Rania Fardyani