Aku menggunakan mesin ketik dalam pekerjaanku. Masih teringat bagaimana susahnya menggunakan mesin ketik. Aku berupaya membuat tulisan, sambil menggendong anak sulungku. Pada akhirnya begitu banyak ketikan salah, sehingga mengharuskan aku menorehkan stipo bersapu di atas kertas.

Aku tahu bagaimana rasanya sensasi menunggu cat berwarna putih itu mengering. Terkadang aku perlu mengipasnya dengan sebuah benda tipis yang harus kucari kemana-mana, hingga berujung harus meniupnya hingga kering. Walau tiupan itu berasal dari rongga perut yang sedang berontak karena menahan lapar demi menuntaskan ketikan.

Kemahiranku dalam mengatur jarak antara alinea yang satu dengan yang lainnya bukanlah sebuah keunggulan yang bisa diceritakan pada anak cucuku kelak. Padahal gerakan memutar ini membutuhkan risiko perbedaaan yang cukup mengganggu mata untuk kualitas sebuah tulisan.

Stipoku telah kering. Namun saat aku lengah, gadis kecilku meniru gerakanku. Digerakkannya tangan menombol tuts beberapa huruf.

Oh tidak!” ternyata gerakannya lebih cepat dari pelukanku terhadapnya. Kertas itu telanjur tertulis huruf-huruf yang dia inginkan. Huft …. Aku ingin memarahinya, namun gadis ini terlalu lucu dengan usianya yang masih dua tahun.

Dek? bisa enggak aku kerja sebentar saja tanpa memangkunya?!” ucapku pada istriku.

Sebentar mas, Dimas sedang BAB. Aku masih membersihkan popoknya,” jawab istriku dengan intonasi yang cukup tinggi.

Aku tahu keadaan ini mungkin dirasakan sulit. Dia harus mengurus sendiri bayi yang baru berusia dua bulan. Kami hanya berempat. Badannya masih kurang lincah akibat persalinan yang dia alami.

Hal ini cukup membuatku keteteran untuk bekerja sambil mengurus si sulung yang kali ini, ia sedang mencoba lagi menekan tuts angka dalam mesin ketikku.

Aku bisa saja memilih untuk marah. Dua makhluk kecil ini dan juga istriku adalah alasanku bisa bertahan jauh dari orang tua. Mereka penyemangatku. Saat aku mampu menghargai mereka, ternyata aku pun merasakan penghargaan pada diriku. Namun, aku sudah sangat sering menahan amarah.

***
Pa, sudah bisa mengecek transferannya?” bibir mungilnya mengejutkan lamunanku.

Belum nak, dari tadi gagal terus,” ucapku sambil memijat lutut kananku yang terasa begitu ngilu.

Sini, Putri cek dulu,” badannya yang sedang mengandung masih saja terlihat luwes.

Laaaaah … pantes aja, koneksinya enggak ada. Wifinya enggak nyambung ini Pa,” tambahnya.

Terus diapain?” aku begitu terkesan bodoh dengan pertanyaannku. Padahal puluhan podium sudah kuinjakkan untuk presentasi pekerjaan pada segala penjuru di Indonesia.

Tunggu, aku akses kembali wifinya,” jelasnya.

Mata besar itu berputar-putar memandang androidku yang dibelikannya. Masih seperti kebiasaan kecilnya, sesekali ia mengedipkan mata berkali-kali.

Tidak terasa dulu dia duduk dalam pangkuanku, sekarang akan memberiku cucu ke empat dari Rahim itu. Aku masih ingat sekali jari-jari kecilnya yang kutahan agar tidak menekan tuts ketikku saat itu. Saat itu jari-jari itu sering membantuku untuk mengakses berbagai aplikasi dan apapun itu namanya di dalam androidku.

Waktu begitu cepat bergulir, seandainya saja aku bisa memutar waktu. Aku ingin kembali pada masa itu. Meminta maaf pada ibumu, dan memintanya untuk kembali dalam rumah tangga kita. Harusnya aku sadar saat itu ibumu begitu rapuh. Apalagi dengan ucapanku yang terlalu arogan, membandingkan pendidikannya dengan pekerjaanku.

Mengecilkannya yang sedang tidak berdaya. Meremehkan setiap pekerjaan rumahnya. Bahkan melayangkan pukulan pada tubuhnya karena tidak kuasa menahan amarahku.

Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Menganggap semua pekerjaanku yang terbaik. Padahal ibumu lebih dari itu. Ia baru saja berjuang melahirkan adikmu yang sekarang tidak ingin dekat denganku. Aku kehilangan mereka. Aku hidup sendiri. Aku sedih dalam kesendirian.

Ternyata tidak ada yang abadi. Aku tersadar saat istri keduaku ternyata harus meninggalkan aku terlebih dahulu tanpa memberi buah hati.

Nah, sudah berhasil ya Pa,” ucapnya.

Sebuah ucapan yang sebenarnya tidak ingin aku dengar. Karena langkahnya akan meninggalkan rumahku yang besar tanpa kehidupan.

iya, terimakasih ya Putri,” jawabku lirih.

Putri pamit pulang ya pa, mau jemput anak-anak sekolah. Papa engga papa kan kutinggal? Di meja makan sudah aku belikan lauk dan buah.

Aku mengganggukan kepala karena lidah ini begitu kelu untuk berucap.

Jaga cucu Papa dan juga … ibumu,” akhirnya hanya itu yang bisa aku ucapkan.

Kulihat paras cantiknya berubah menjadi semakin manis saat aku berkata itu.

Ada sebuah kalimat yang hanya tersimpan dalam hati. Diujung usiaku yang sudah angka 80, apakah aku masih layak mengungkapkannya? Apakakah ini akan terus kusimpan hingga hembusan napasku berhenti?

Aku sayang kamu anakku. Maafkan Papa.

***
Tulisan ini adalah Fiksi, kesamaan nama tokoh, karir, tempat, dsb hanyalah kebetulan semata.

Pesan Moral:
Waktu tidak pernah dapat diulang kembali. Sebuah penyesalan selalu diakhir. Teruslah berupaya untuk berbuat kebaikan, karena kita tidak akan pernah tahu apa yang kita hadapi di masa yang akan datang. Setidaknya dengan menanam benih kebaikan, kita akan menuai kebaikan pula. Kita akan berada dalam lingkaran kebaikan.

Author