Seiring perkembangan teknologi internet, berbagai sosial media menjamur. Tiap orang baik orang dari desa maupun orang kota memiliki media sosial sebagai kebutuhan hidupnya. Facebook, Instagram, Twitter, Linkedin, Pinterest, whatsapp adalah diantara sekian banyak media sosial yang penggunaannya terus meroket hingga saat ini. Sebaliknya ada sosial media seperti friendstar, ebuddy, Mig33, Mxit, mIRC, yahoo Massenger yang keberadaanya sudah punah.

Dalam perjalanannya, social media terus berkembang dengan pesat. Ada yang popularitasnya terus naik dan memiliki banyak anggota, adapula yang kelebihan beban dan akhirnya punah tergerus perkembangan jaman. Eksis tidaknya media sosial tentunya bergantung pada pengelolan pemiliknya dan juga responsitas masyarakat sebagai penggunanya.

Sosial media yang berkembang pesat menghasilkan pundi-pundi uang yang sangat banyak bagi penciptanya. Contohnya, Mark Zuckerbarg yang menjadi salah satu tokoh muda dibawah 30 tahun yang paling kaya di Amerika Serikat berkat sosial media facebook yang berhasil diciptakannya.

Kala menciptakan facebook dahulu, Mark tidak pernah memikirkan bahkan mengharapkan sesuatu yang luar biasa seperti saat ini. Mark tidak pernah membayangkan bahwa karyanya akan digunakan oleh jutaan masyarakat dunia. Begitu juga dengan para pencipta sosial media lainnya. Sosial media telah menjamur dan memberikan banyak manfaat dan kemudharatan pada masyarakat.

Kapan Sosial Media Bisa Menjadi Tak baik

Sosial Media seperti facebook, twitter, instagram dan sebagainya dapat diibaratkan seperti pisau dapur. Pisau dapur sendiri ada banyak ragam dan modelnya. Manakala pisau tersebut digunakan untuk mengupas buah, mengiris bawang, memotong sayuran dan sebagainya maka jadilah makanan yang siap disantap manusia. Fungsi pisau dapur disini adalah mempermudah kinerja manusia.

Namun berbeda halnya jika pisau dapur tersebut digunakan untuk mengancam, menusuk hingga membunuh orang, maka pisau dapur tersebut dapat menjadi alat kejahatan. Keberadaan pisau dapur tersebut harus segera disingkirkan dari yang memegang. Jadi yang berbahaya disini bukan pisaunya, melainkan orang yang menggunakan pisau tersebut.

Jika kejahatan marak dengan menggunakan pisau dapur, akankah kita ramai-ramai mengharamkan pisau dapur dan melarang ibu rumah tangga, chef restoran, koki dan lainnya menggunakan pisau dapur untuk memasak? Atau kalau kita menyaksikan berita kecelakaan kendaraan baik di darat, laut maupun udara yang menewaskan banyak orang, akankah serta merta kita mengharamkan kendaraan untuk sarana transportasi?

Pertanyaan yang sama bisa di ajukan juga ke sosial media. Akankah kita mengharamkan sosial media dan melarang penggunaannya hanya karena ada orang-orang tertentu yang menyalahgunakannya??

Melarang penggunaan sosial media apalagi sampai mengharamkannya sungguh merupakan hal yang kurang bijak. Manfaat yang bisa diambil dari Sosial media jauh lebih banyak, terutama dalam hal komunikasi dan juga mendapatkan berbagai informasi. Sosial media juga bisa menjadi sarana hiburan serta promosi yang handal.

Sosial Media Yang Bermanfaat

Sebagai sebuah laman jejaring di dunia yang tidak nyata (dunia maya), Sosial media tentu memiliki banyak manfaat dibalik secuil kemudharattannya. Media sosial memungkinkan penggunanya berkomunikasi lebih efisien dengan teman lama, keluarga yang jauh, rekan kerja maupun berkomunikasi dengan orang-orang yang baru.

Sosial media bisa dieksploitasi untuk berbagai macam kepentingan. Seperti halnya dalam politik yang memanfaatkan sosial media sebagai sarana untuk menarik pendukung dan menjadi salah satu alat kampanye. Mengangkat isu-isu yang krusial dan lain sebagainya juga bisa dilakukan.

Orang-orang yang memiliki motif berdagang, baik jasa maupun barang juga dapat mempromosikan jualannya melalui sosial media. Para Selebriti juga sudah lama menggunakan sosial media sebagai sarana promosi diri dan mendekatkan diri dengan para penggemarnya.

Selain itu, sosial media bisa digunakan sebagai media menampung aspirasi publik yang punya daya tekan yang mengesankan. Kerap kali kita melihat postingan seseorang mengenai sesuatu yang tidak menyenangkan dan hal ini mendapat komentar dari banyak orang. Pada akhirnya hal tersebut mendapat perhatian dari pihak terkait dan membuat sebuah perubahan yang lebih baik.

Sosial Media Yang Tak Baik

Sosial media juga terkadang jadi sumber kemudharatan. Produktifitas kerja seringkali menurun akibat pengguanaan sosial media yang terus menerus. Tugas dan kewajiban kerap kali terabaikan karena tidak bisa melepas diri dari update di sosial media.

Dari sosial media, kita kerap kali mendapat kabar kalau hubungan antar orang renggang bahkan terputus. Baik antar teman, antar suami istri atau saat masih jadi kekasih. Perceraian dan perselingkuhan yang berawal dari sosial media juga sudah tidak terhitung lagi banyaknya.

Banyaknya kasus remaja putri yang diculik oleh orang yang dikenalnya lewat salah satu sosial media seperti facebook amat sangat memprihatinkan. Hampir tiap hari ada kabar yang memberitakan ini dengan pelaku yang berbeda-beda. Modusnya sama tapi pelaku dan korbannya berbeda.

Banyak pendidik dan orang tua yang kemudian menilai bahwa teknologi yang semakin canggih, membuat kewaspadaan semakin tinggi. Sosial Media pada akhirnya dicap sebagai pembawa kemudharatan dan perusak moral generasi muda.

Sikap Dalam Bersosial Media

Bagaimanapun juga, sosial media adalah benda mati. Ia pasif dan bekerja manakala ada orang yang mengaksesnya. Semakin banyak orang yang akses, semakin besar pengaruhnya di masyarakat. Jika ada yang anggap banyak mudharat, yang salah bukan sosial medianya tapi manusia yang mengakses dan menggunakannya.

Kalau seseorang sudah memiliki niat negatif dalam mengakses sosial media, niat negatif tersebut terfasilitasi dengan baik lewat sosial media. Dampak negatif dari sosial media akan sangat terasa. Sebaliknya jika tidak ada niatan jelek dalam mengakses maupun membagikan sesuatu lewat media sosial, hal buruk dari sosial media tidak akan terasa. Justru energi positif yang dirasakan.